Jumat, 31 Oktober 2014

Teman



Pagi itu seperti biasa aku sedang menyapu halaman warnet tempatku bekerja ketika Herman datang sambil menenteng dua kantong kecil berisi gorengan beraneka jenis.
“Ayo ded kita sarapan dulu.”sapanya sambil memberikanku suatu senyuman ciri khasnya, memamerkan segaris giginya yang ompong.
“Mantap, sering-sering aja lu begini hehe.”jawabku lalu menaruh sapu dan duduk di teras di samping temanku Herman dan dua bungkus gorengan yang masih panas.
Hidup memang tak bisa ditebak, seperti saat ini Aku terdampar menjadi seorang penjaga warnet di kawasan kota Tangerang yang ramai. Dan aku mendapatkan seorang sahabat yang juga tak kuduga, seorang pemuda botak bergigi ompong yang baik hati. Jika kuingat pertama kali Aku dan Herman bertemu, sering Aku terheran-heran sendiri, saat itu Ia tak lebih seorang pelanggan warnet biasa. Hampir tiap hari dia bermain di warnet tempatku bekerja bahkan sampai berja-jam, saking seringnya ia berkunjung ke Tempatku sampai-sampai anak-anak kecil penggemar game online memanggilnya dengan panggilan Bang Ompong. Dia tidak marah dijuluki seperti itu, seperti biasa dia hanya tersenyum sambil memamerkan giginya yang minus.

“emang lug gak punya kerjaan bang saban hari nongkrong disini terus?”tanyaku suatu hari saat Herman selesai bermain dan hendak membayar tagihan warnetnya.
“gue kerja di bengkel mas, tapi freelance gitu, gue kerja kalo ada kerjaan aja.”jawabnya sambil mengasongkan selembar uang lima puluh ribu yang telah kucel karena terlalu sering berpindah tangan.
Aku memang seorang yang bodoh dan Cuma seoang penjaga warnet, tapi setahuku tak ada kerjaan di bengkel yag dikerjakan secara freelance. Tapi aku tak ingin banyak prasangka, apa urusanku, fikirku. Setelah itu obrolan kami mengalir layaknya teman yang sudah lama saling kenal. Bahkan esoknya jika sudah lelah bermain sering kutawari ia untuk tidur dikamarku di atas saja agar ia bisa istirahat. ia sangat senang dan seperti biasa membalasnya dengan memamerkan gigi minusnya. Persahabatan kami semakin lama semakin erat, bahkan hampir tiap hari ia membawakanku makanan enak. Kadang-kadang martabak telur, gorengan atau bahkan sebungkus nasi padang, makanan yang termasuk mewah untuk seorang karyawan kecil bergaji tiarap sepertiku.

Ia bercerita jika ia seorang perantau asal Padang dan anak sulung yang harus menafkahi keluarganya, ayahnya seorang yang tua dan sudah sakit-sakitan.
“Ded hidup di Jakarta halal haram sama saja udah sulit buat dibedain.”katanya suatu malam saat warnet sudah sepi dan yang terdengar  hanya raungan suara kendaraan bermotor yang sesekali lewat.
“tapi bukankah itu tetap ga bisa dibenarkan.”sanggahku yang memang tak setuju.
“Ded  lu harus tau, setiap orang  berhak untuk mencari pembenaran dari apapun yang dia kerjakan. Entah itu baik atau buruk.”jelasnya sambil menerawang ke ruang kosong. aku tak mengerti arah pembicaraan manusia ompong satu ini, tak biasanya ia bicara tentang benar dan salah. Biasanya paling banter dia ngobrol tentang film bokep kesukaannya atau saling ledek tentang bagaimana susahnya mencari pacar dengan wajah di bawah standar seperti kami berdua.

Setelah pembicaraan yang aneh itu, entah kenapa kami berdua lebih banyak terdiam. Sampai Herman bergegas pamit untuk pulang. Kutawari dia agar menginap di tempatku saja, dia menolak dan bilang kalo besok ia ada kerjaan pagi-pagi sekali. Dan anehnya kali ini ia tak memamerkan senyum ompong khasnya, sebersit aura aneh tiba-tiba mendesir di dadaku. Hari ini memang prilaku si ompong ini tidak seperti biasanya. Sebelum pergi dia menyerahkan sebuah bungkusan yang berbungkus Koran tabloid gossip bertuliskan pernikahan Raffi Ahmad dan Nagita slavina.
“itu hadiah buat lu, kebetulan kemaren gue dapat rezeki lebih.”katanya
“makasih, kebetulan gue lagi kekurangan pakaian, eh kenapa lu gak ngasih sekalian sama celananya”jawab gue sambil membuka bungkusan yang ternyata isinya sebuah kaus berwarna hitam.
"gila aje, lu pikir gue bapak lu."jawabnya sambil tersenyum.

Besoknya seharian Herman tak muncul main ke tempatku, mungkin kerjaannya di bengkel sedang banyak. Fikirku dalam hati. Tapi sampai hari-hari selanjutnya ia tak pernah muncul lagi. aku mulai heran, sempat kukira kalo dia pulang kampung ke Padang, tapi dia sendiri yang bilang haram hukumnya bagi anak minang sejati pulang mearantau sebelum berhasil apa yang dicita-citakannya. Hari demi hari gigi ompongnya tak nongol ke warnetku. Kucoba hubungi lewat hp. Tapi tak ada jawaban dari hp nokia jadul miliknya. Hingga pada suatu sore yang tidak cerah dan sedikit mendung datang Pak RT yg berniat memfotocopy sebuah dokumen.
“Tolong fotocopy ini dong ded!”katanya sambil mengeluarkan satu lembar kertas dari sakunya.
“beres pak, emangnya dokumen apaan nich?”
“surat kematian, besok mau dikirim ke kampungnya di padang.”jawabnya tenang, sesantai mengucapkan hasil pertandingan sepakbola.
Kaget Aku ketika membaca sebuah nama di surat kematian itu karena dengan jelas tertera nama Herman Caplin sahabatku, dan asal padang pula. Tak mungkin ini fikirku.
“Pak, ini yang meninggal Herman yang tinggal di kostan cempaka putih bukan?”tanyaku, penasaran sambil bekerharap bahwa yang meninggal herman yang lain.
“betul ded, itu herman yang di Cempaka Putih yang giginya ompong, dia mati dikeroyok masa seminggu yang lalu gara-gara mencuri motor.
Sontak dunia rasanya berhenti berputar, dikeroyok, mencuri motor, sungguh tak kuduga akhir
dari hidupnya akan tragis seperti itu. Lalu bagaimana perasaan ayahnya yang sakit-sakitan ketika yang pulang adalah mayatnya. Aku lalu teringat perkataannya malam tempo hari “ setiap orang  berhak untuk mencari pembenaran dari apapun yang dia kerjakan. Entah itu baik atau buruk.” Jadi yang ia maksud kerjaan Freelance itu adalah mencuri. Dan ia membenarkan prilakunya menjadi seorang Pencuri demi menghidupi keluarganya di kampung.

 Besoknya fikiranku masih hancur, kubuka hadiah kaus pemberian Herman dan dikaos itu tertera tulisan  “ We ride together, we die together. Bad boys for life.”  Kukenakan kaos hitam pemberiannya dulu, lalu kutulis sebuah puisi di secarik kertas.

Ketika kenanganmu pergi bersama ketiadaanmu
Yang tersisa hanya asa
Harapanmu untuk mengangkat derajat keluarga
Adalah nilai kemuliaanmu di mata Tuhan
Kau boleh dipandang hina di mata manusia
Semoga kau mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan
Teman…
      

Tidak ada komentar:

Posting Komentar