Pagi itu seperti biasa aku sedang menyapu halaman
warnet tempatku bekerja ketika Herman datang sambil menenteng dua kantong kecil
berisi gorengan beraneka jenis.
“Ayo ded kita sarapan dulu.”sapanya sambil
memberikanku suatu senyuman ciri khasnya, memamerkan segaris giginya yang
ompong.
“Mantap, sering-sering aja lu begini hehe.”jawabku
lalu menaruh sapu dan duduk di teras di samping temanku Herman dan dua bungkus
gorengan yang masih panas.
Hidup memang tak bisa ditebak, seperti saat ini Aku
terdampar menjadi seorang penjaga warnet di kawasan kota Tangerang yang ramai.
Dan aku mendapatkan seorang sahabat yang juga tak kuduga, seorang pemuda botak
bergigi ompong yang baik hati. Jika kuingat pertama kali Aku dan Herman
bertemu, sering Aku terheran-heran sendiri, saat itu Ia tak lebih seorang
pelanggan warnet biasa. Hampir tiap hari dia bermain di warnet tempatku bekerja
bahkan sampai berja-jam, saking seringnya ia berkunjung ke Tempatku
sampai-sampai anak-anak kecil penggemar game online memanggilnya dengan
panggilan Bang Ompong. Dia tidak marah dijuluki seperti itu, seperti biasa dia
hanya tersenyum sambil memamerkan giginya yang minus.
“emang lug gak punya kerjaan bang saban hari
nongkrong disini terus?”tanyaku suatu hari saat Herman selesai bermain dan
hendak membayar tagihan warnetnya.
“gue kerja di bengkel mas, tapi freelance gitu, gue
kerja kalo ada kerjaan aja.”jawabnya sambil mengasongkan selembar uang lima
puluh ribu yang telah kucel karena terlalu sering berpindah tangan.
Aku memang seorang yang bodoh dan Cuma seoang
penjaga warnet, tapi setahuku tak ada kerjaan di bengkel yag dikerjakan secara freelance.
Tapi aku tak ingin banyak prasangka, apa urusanku, fikirku. Setelah itu obrolan
kami mengalir layaknya teman yang sudah lama saling kenal. Bahkan esoknya jika
sudah lelah bermain sering kutawari ia untuk tidur dikamarku di atas saja agar
ia bisa istirahat. ia sangat senang dan seperti biasa membalasnya dengan
memamerkan gigi minusnya. Persahabatan kami semakin lama semakin erat, bahkan
hampir tiap hari ia membawakanku makanan enak. Kadang-kadang martabak telur,
gorengan atau bahkan sebungkus nasi padang, makanan yang termasuk mewah untuk
seorang karyawan kecil bergaji tiarap sepertiku.
Ia bercerita jika ia seorang perantau asal Padang
dan anak sulung yang harus menafkahi keluarganya, ayahnya seorang yang tua dan
sudah sakit-sakitan.
“Ded hidup di Jakarta halal haram sama saja udah
sulit buat dibedain.”katanya suatu malam saat warnet sudah sepi dan yang
terdengar hanya raungan suara kendaraan
bermotor yang sesekali lewat.
“tapi bukankah itu tetap ga bisa
dibenarkan.”sanggahku yang memang tak setuju.
“Ded lu harus
tau, setiap orang berhak untuk mencari
pembenaran dari apapun yang dia kerjakan. Entah itu baik atau buruk.”jelasnya
sambil menerawang ke ruang kosong. aku tak mengerti arah pembicaraan manusia
ompong satu ini, tak biasanya ia bicara tentang benar dan salah. Biasanya
paling banter dia ngobrol tentang film bokep kesukaannya atau saling ledek tentang bagaimana susahnya mencari pacar dengan wajah di bawah standar seperti kami berdua.
Setelah pembicaraan yang aneh itu, entah kenapa kami
berdua lebih banyak terdiam. Sampai Herman bergegas pamit untuk pulang.
Kutawari dia agar menginap di tempatku saja, dia menolak dan bilang kalo besok
ia ada kerjaan pagi-pagi sekali. Dan anehnya kali ini ia tak memamerkan senyum
ompong khasnya, sebersit aura aneh tiba-tiba mendesir di dadaku. Hari ini
memang prilaku si ompong ini tidak seperti biasanya. Sebelum pergi dia
menyerahkan sebuah bungkusan yang berbungkus Koran tabloid gossip bertuliskan
pernikahan Raffi Ahmad dan Nagita slavina.
“itu hadiah buat lu, kebetulan kemaren gue dapat
rezeki lebih.”katanya
“makasih, kebetulan gue lagi kekurangan pakaian, eh kenapa lu gak ngasih sekalian sama celananya”jawab
gue sambil membuka bungkusan yang ternyata isinya sebuah kaus berwarna hitam.
"gila aje, lu pikir gue bapak lu."jawabnya sambil tersenyum.
"gila aje, lu pikir gue bapak lu."jawabnya sambil tersenyum.
Besoknya seharian Herman tak muncul main ke
tempatku, mungkin kerjaannya di bengkel sedang banyak. Fikirku dalam hati. Tapi
sampai hari-hari selanjutnya ia tak pernah muncul lagi. aku mulai heran, sempat
kukira kalo dia pulang kampung ke Padang, tapi dia sendiri yang bilang haram
hukumnya bagi anak minang sejati pulang mearantau sebelum berhasil apa yang
dicita-citakannya. Hari demi hari gigi ompongnya tak nongol ke warnetku. Kucoba
hubungi lewat hp. Tapi tak ada jawaban dari hp nokia jadul miliknya. Hingga
pada suatu sore yang tidak cerah dan sedikit mendung datang Pak RT yg berniat
memfotocopy sebuah dokumen.
“Tolong fotocopy ini dong ded!”katanya sambil
mengeluarkan satu lembar kertas dari sakunya.
“beres pak, emangnya dokumen apaan nich?”
“surat kematian, besok mau dikirim ke kampungnya di
padang.”jawabnya tenang, sesantai mengucapkan hasil pertandingan sepakbola.
Kaget Aku ketika membaca sebuah nama di surat
kematian itu karena dengan jelas tertera nama Herman Caplin sahabatku, dan asal
padang pula. Tak mungkin ini fikirku.
“Pak, ini yang meninggal Herman yang tinggal di
kostan cempaka putih bukan?”tanyaku, penasaran sambil bekerharap bahwa yang
meninggal herman yang lain.
“betul ded, itu herman yang di Cempaka Putih yang
giginya ompong, dia mati dikeroyok masa seminggu yang lalu gara-gara mencuri
motor.
Sontak dunia rasanya berhenti berputar, dikeroyok,
mencuri motor, sungguh tak kuduga akhir
dari hidupnya akan tragis seperti itu. Lalu
bagaimana perasaan ayahnya yang sakit-sakitan ketika yang pulang adalah
mayatnya. Aku lalu teringat perkataannya malam tempo hari “ setiap orang berhak untuk mencari pembenaran dari apapun
yang dia kerjakan. Entah itu baik atau buruk.” Jadi yang ia maksud
kerjaan Freelance itu adalah mencuri. Dan ia membenarkan prilakunya menjadi
seorang Pencuri demi menghidupi keluarganya di kampung.
Besoknya
fikiranku masih hancur, kubuka hadiah kaus pemberian Herman dan dikaos itu
tertera tulisan “ We ride together, we die together. Bad boys for life.” Kukenakan kaos hitam pemberiannya
dulu, lalu kutulis sebuah puisi di secarik kertas.
Ketika kenanganmu pergi bersama ketiadaanmu
Yang tersisa hanya asa
Harapanmu untuk mengangkat derajat keluarga
Adalah nilai kemuliaanmu di mata Tuhan
Kau boleh dipandang hina di mata manusia
Semoga kau mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan
Teman…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar