“Ia
barulah layang-layang jika melayang, meski tak berhak membayangkan wajah angin.”
Entah sejak kapan aku mulai menggemari hobi baruku
ini, hobi menerbangkan layang-layang, memang terlalu ganjil untuk dilakukan
seorang pensiunan tua sepertiku. Tapi sejak hijrah dari kota bandung delapan
belas tahun lalu ke kampung ini. Sayang rasanya melewatkan hembusan kencangnya
angin pegunungan. Bukankah Tuhan menciptakan sesuatu dengan sebuah alasan,
begitupula Tuhan menciptakan angin kencang untuk agar layang-layang terbang
tinggi menembus langit.
Tak
pernah bosan aku memandangi wajahnya yang masih suci, apalagi saat tertidur
seperti itu. Dia anak lelakiku, harapanku, pengobat perihnya kalbuku. Tak tega rasanya harus
meninggalkan dia saat ini apalagi hanya untuk menerbangkan layang-layang.
Kasihan dia, waktu lagi enak-enaknya menyusui tetek ibunya, ditinggalkannya dia
bersama tangis oleh ibunya. Karena susahnya ekonomi keluarga kami, ibunya pergi
merantau keluar negeri sebagai TKI. Praktis sejak menjelang habis masa oroknya
dia berada dalam pengasuhanku bahkan entah anak lelaki yang kini sudah berusia
enam tahun itu masih ingat bentuk wajah ibunya atau tidak aku tak tahu.
“kenapa
bapak suka main layang-layang?”tanyanya di suatu malam yang hanya terdengar
suara jangkrik samar-samar.
“layang-layang
itu jiwanya merdeka nak, dia pasrah meskipun diombang-ambing kesana kemari oleh
angin. Dan dia tak pernah mengeluh saat tali mereka putus, tak pernah mencaci
dan selalu memaafkan.”jawabku sambil mengusap rambutnya yang ikal dan hitam.
Dia kelihatan sangat bingung dengan jawabanku yang memang sulit dipahami bahkan
oleh bocah sekecil itu. Ia lalu menatapku dengan mata bulatnya lalu berkata
“berarti layang-layang lebih baik dari manusia ya pak? Kan manusia banyak yang
susah memaafkan.” Aku hanya tersenyum mendengar perkataannya. Kadang-kadang
memang seorang bocah kecil mempunyai pemikiran yang lebih jernih dari orang
dewasa,mungkin karena jiwa mereka belum terasuki sifat serakah, nafsu dan
menguasai.
Perlahan-lahan
mata kecil yang terpejam lelap itu terbuka dari tidur siangnya, seperti biasa
jika saat terbangun ada aku disisinya dia akan berkata “mau kemana pak? Dede
ikut ya! Sedangkan jika saat dia terbangun aku tidak ada di sampingnya, dia
akan menangis meronta-ronta memanggil-manggil nama Bapaknya. Betapa ketakutan
terbesar bocah kecil itu adalah ditinggalkan bapaknya.
“tidak akan Nak,
bapak tidak akan meninggalkanmu seperti layang-layang putus yang meninggalkan
tuannya. Bapak bagaikan layang-layang yang talinya begitu kuat sampai hanya
sang angin sendirilah yang bisa membuat putus tali dengan sendirinya.”
Kadang-kadang
dengan umurku yang sudah tua ini, aku takut meninggalkan anakku terlalu cepat.
Tidak bisa menyaksikannya tumbuh menjadi lelaki tangguh, sukses dan
dikejar-kejar para wanita. Pernah suatu hari dia pulang sekolah dengan mata
berlinang air mata karena menangis.
Aku
membungkuk di hadapannya sambil kuusap rambutnya lalu kutanyakan.
“kenapa
menangis? Lelaki sejati itu pantang untuk menangis.”
“Aku
diejek teman-teman pak, kata mereka aku punya Ayah yang sudah tua dan sebentar
lagi akan mati. Bapak belum tua kan pak? Katanya tanpa berhenti terisak. Antara
lucu dan haru kutepuk pundak anak lelakiku itu lalu kukatakan “tidak nak, Bapak
belum tua, bapak masih muda. Lihat bapak masih kuat main layangan kan.”
“berarti
bapak gak bakalan cepat mati?” kulihat tangisnya mulai reda tanda munculnya
kelegaan di hatinya.
“iya,
bapak gak akan mati, bapak akan menemanimu main layangan dan main bola terus.”demi
setelah mendengar jawabanku matanya langsung berbinar dan semburat keceriaan
timbul di wajahnya.
Kupangku
dia keluar dan kuraih layang-layang beserta benangnya. Siang itu angin
berhembus kencang dan aku menerbangkan layang-layang bersama anakku.
“kita
akan panggil angin barat, bukan badai atau petir
Kita
akan minta kambing mengembik, kuda meringkik
Dan
sapi melenguh agar angin meniupkan gerak-gerikmu
Mengatur
tegang kendurnya benang itu
Sejak
itu..
Kami
tak habis-habisnya mengagumi angin, terutama ketika
Siang
melandai dan aroma sore tercium di atas kampung kecil ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar