Sabtu, 01 November 2014

Kisah pria Tua pemburu Angin



“Ia barulah layang-layang jika melayang, meski tak berhak membayangkan wajah angin.”

Entah sejak kapan aku mulai menggemari hobi baruku ini, hobi menerbangkan layang-layang, memang terlalu ganjil untuk dilakukan seorang pensiunan tua sepertiku. Tapi sejak hijrah dari kota bandung delapan belas tahun lalu ke kampung ini. Sayang rasanya melewatkan hembusan kencangnya angin pegunungan. Bukankah Tuhan menciptakan sesuatu dengan sebuah alasan,  begitupula Tuhan menciptakan angin kencang untuk agar layang-layang terbang tinggi menembus langit.

Tak pernah bosan aku memandangi wajahnya yang masih suci, apalagi saat tertidur seperti itu. Dia anak lelakiku, harapanku, pengobat perihnya kalbuku. Tak tega rasanya harus meninggalkan dia saat ini apalagi hanya untuk menerbangkan layang-layang. Kasihan dia, waktu lagi enak-enaknya menyusui tetek ibunya, ditinggalkannya dia bersama tangis oleh ibunya. Karena susahnya ekonomi keluarga kami, ibunya pergi merantau keluar negeri sebagai TKI. Praktis sejak menjelang habis masa oroknya dia berada dalam pengasuhanku bahkan entah anak lelaki yang kini sudah berusia enam tahun itu masih ingat bentuk wajah ibunya atau tidak aku tak tahu.

“kenapa bapak suka main layang-layang?”tanyanya di suatu malam yang hanya terdengar suara jangkrik samar-samar.
“layang-layang itu jiwanya merdeka nak, dia pasrah meskipun diombang-ambing kesana kemari oleh angin. Dan dia tak pernah mengeluh saat tali mereka putus, tak pernah mencaci dan selalu memaafkan.”jawabku sambil mengusap rambutnya yang ikal dan hitam. Dia kelihatan sangat bingung dengan jawabanku yang memang sulit dipahami bahkan oleh bocah sekecil itu. Ia lalu menatapku dengan mata bulatnya lalu berkata “berarti layang-layang lebih baik dari manusia ya pak? Kan manusia banyak yang susah memaafkan.” Aku hanya tersenyum mendengar perkataannya. Kadang-kadang memang seorang bocah kecil mempunyai pemikiran yang lebih jernih dari orang dewasa,mungkin karena jiwa mereka belum terasuki sifat serakah, nafsu dan menguasai.

Perlahan-lahan mata kecil yang terpejam lelap itu terbuka dari tidur siangnya, seperti biasa jika saat terbangun ada aku disisinya dia akan berkata “mau kemana pak? Dede ikut ya! Sedangkan jika saat dia terbangun aku tidak ada di sampingnya, dia akan menangis meronta-ronta memanggil-manggil nama Bapaknya. Betapa ketakutan terbesar bocah kecil itu adalah ditinggalkan bapaknya.
“tidak akan Nak, bapak tidak akan meninggalkanmu seperti layang-layang putus yang meninggalkan tuannya. Bapak bagaikan layang-layang yang talinya begitu kuat sampai hanya sang angin sendirilah yang bisa membuat putus tali dengan sendirinya.”

Kadang-kadang dengan umurku yang sudah tua ini, aku takut meninggalkan anakku terlalu cepat. Tidak bisa menyaksikannya tumbuh menjadi lelaki tangguh, sukses dan dikejar-kejar para wanita. Pernah suatu hari dia pulang sekolah dengan mata berlinang air mata karena menangis.
Aku membungkuk di hadapannya sambil kuusap rambutnya lalu kutanyakan.
“kenapa menangis? Lelaki sejati itu pantang untuk menangis.”
“Aku diejek teman-teman pak, kata mereka aku punya Ayah yang sudah tua dan sebentar lagi akan mati. Bapak belum tua kan pak? Katanya tanpa berhenti terisak. Antara lucu dan haru kutepuk pundak anak lelakiku itu lalu kukatakan “tidak nak, Bapak belum tua, bapak masih muda. Lihat bapak masih kuat main layangan kan.”
“berarti bapak gak bakalan cepat mati?” kulihat tangisnya mulai reda tanda munculnya kelegaan di hatinya.
“iya, bapak gak akan mati, bapak akan menemanimu main layangan dan main bola terus.”demi setelah mendengar jawabanku matanya langsung berbinar dan semburat keceriaan timbul di wajahnya.

Kupangku dia keluar dan kuraih layang-layang beserta benangnya. Siang itu angin berhembus kencang dan aku menerbangkan layang-layang bersama anakku.

“kita akan panggil angin barat, bukan badai atau petir
Kita akan minta kambing mengembik, kuda meringkik
Dan sapi melenguh agar angin meniupkan gerak-gerikmu
Mengatur tegang kendurnya benang itu
Sejak itu..
Kami tak habis-habisnya mengagumi angin, terutama ketika
Siang melandai dan aroma sore tercium di atas kampung kecil ini.
 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar