Kamis, 30 Oktober 2014

Cucuku Kebanggaanku


Sang Jejak petualang

Jangan ganggu pria tua itu jika siang bada dzuhur tiba, dia akan khusyuk didepan TV jika saat itu tiba. Siang bada dzuhur adalah harga diri, kebanggaan dan semangat hidup bagi pria tua yang mulai renta dimakan usia itu. Jangan heran jika sebelum acara yang dinanti-nantinya tiba, ia hilir mudik mengabarkan kepada tetangga-tetangga dekatnya agar jangan lupa menonton Tv siang itu. Dan saat acara yang dinantikannya itu tiba, akan ada senyum penuh arti yang tersungging dari bibirnya seperti berkata dengan bangga.”lihat dunia betapa bangganya Aku, Cucuku ada di TV. Dia artis terkenal sekarang. Betapa hebat Aku ini bukan?”

Aku sudah cukup senang karena pria tua yang adalah ayahku itu bisa merasakan rasa bangga di sisa usianya, kini dia telah meninggalkanku untuk selamanya. Tapi kenangannya masih terus kuingat dengan sangat nyata. Cucu yang ayahku bangga-banggakan memang benar-benar seorang artis terkenal dan memang sangat pantas untuk menjadi kebanggaan keluarga. cukuplah menjadi pengobat luka karena Aku tak pantas untuk menjadi anak yang akan dibanggakan keluarga, seorang pemain sepakbola gagal yang bahkan tak pernah tembus seleksi untuk tim kabupaten.

Cucu yang menjadi kebanggaan ayahku adalah presenter acara jejak petualang, acara traveling paling terkenal pada zamannya. Namanya Riyanni Djangkaru. Mungkin yang terlintas di pikiran manusia manapun saat membaca tulisan ini adalah tidak percaya, dan itupun yang dirasakan berpuluh-puluh orang tetangga saat sang pria tua memoles cerita kepada mereka bahwa sang pembawa acara adalah cucu kandungnya sendiri, dan mana mungkin seorang pria tua miskin yang tinggal di negeri antah berantah bisa punya seorang cucu gadis kota berparas cantik kaya serta terkenal.

Bersama Riyanni Djangkaru
Cukup, jangan sebut ayahku seorang pembual, aku bersumpah demi Tuhan kalau apa yang dikatakannya memang benar adanya. Riyanni Djangkaru si jejak petualang itu memang benar-benar cucunya, keponakanku asli. riyanni adalah putri dari kakak tiriku yang menikah dengan seorang pria Palembang dengan marga djangkaru. Saat di sekolah aku sering diberondong pertanyaan oleh teman-temanku yang bertanya tentang desas desus apakah benar jika Riyani Djangkaru adalah kerabatku, saat itu aku hanya bisa menuruti nasihat ibuku untuk bungkam “jangan membenarkan sesuatu hal yang belum tentu bisa kau buktikan.” katanya. Yang kutahu semasa hidupnya ayahku hanya bisa bertemu beberapa kali dengan cucunya itu, begitupula denganku, bertatap muka dengannya hanya sekali dua kali. bahkan aku tak tahu pasti apakah Riyanni juga menganggap Ayahku kakeknya seperti halnnya Ayahku menganggap dia cucunya. sepertinya kesibukan seorang public figure bisa dijadikan sebuah alibi untuk mengapa betapa mahalnya pertemuan seorang kakek dan idolanya itu. Tapi kutahu semua keterbatasan hubungan keluarga itu tak mengurangi kebanggaan besar ayahku padanya. Aku selalu suka kata-kata ini “aku mencintaimu tanpa syarat dan alasan apapun, lagipula jika cinta membutuhkan alasan mungkin artinya aku tidak mencintaimu.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar